Jumat, 19 Agustus 2011

PASANG SURUT INDUSTRI MUSIK INDONESIA




Sebagai pemain gitar dari band yang tengah populer, Eross Candra banyak dikelilingi oleh penggemar cewek. Dan dia tahu betul bagaimana membangun koneksi antara proses kreatif sebagai musisi dengan belasan wajah cantik yang selalu mengerubutinya hampir setiap hari.
Sebuah hubungan timbal balik yang memberikan inspirasi lahirnya “Sephia”, salah satu hit yang melambungkan nama Sheila On 7 sebagai salah satu band pop paling diperhitungkan saat itu, 2000.
Tema sentral lagu ini mengisahkan seorang pria yang berpacaran dengan beberapa perempuan sekaligus. “Idenya dari aku karena punya banyak, he-he-he,” ungkap Eross tentang lagu yang semula berjudul “Sophia”, diambil dari nama merk televisi di sebuah hotel saat melakukan serangkaian tur. Sekadar mengingatkan Anda, lagu tersebut terdapat dalam album Kisah Klasik Untuk Masa Depan yang penjualannya berhasil menembus angka di atas dua juta keping.
Namun mereka tidak mereguk madu sukses itu sendirian. Penjualan album di atas angka satu juta keping juga dicapai oleh album Ningrat milik Jamrud, band rock dari Cimahi yang dimotori pemain gitar Aziz Mangasi Siagian dan pemain bas Ricky.
Bahkan jika diakumulasi dengan penjualannya yang terus bergerak hingga kini, “Total penjualan Ningrat bisa mencapai 1,5 juta keping,” kata Log Zhelebour, produser sekaligus pemilik Logiss Records. Album ini merupakan gebrakan Jamrud setelah tahun sebelumnya tertimpa musibah. Dua personelnya, gitaris Fitrah Alamsyah dan pemain drum Sandy Handoko, meninggal pada tahun yang sama. Alih-alih vakum dari kegiatan, Jamrud malah menghasilkan album baru yang meledak.

Langkah Sheila On 7 sebagai rising star sebenarnya sudah tercium ketika merilis album debut self-titled pada 1999 yang terjual 900.000 keping. Pada 2001, album ketiga 07 Des kembali menyedot perhatian meski tak selaris album kedua. Pihak Sony Music Indonesia menyebut angka 1,1 juta keping untuk penjualan fisik album 07 Des.
Rupanya ketika itu pasar mulai terpecah dengan kemunculan album kedua Padi, Sesuatu Yang Tertunda, yang berhasil terjual hingga 1,6 juta keping. Ini merupakan sukses lanjutan band asal Surabaya itu setelah album debut mereka melejitkan hits “Mahadewi” serta “Sobat”, bonus track yang diambil dari album kompilasi Indie Ten.

Deretan musisi yang albumnya terjual di atas satu juta keping bisa bertambah panjang. Namun satu hal jelas, meski nama-nama baru terus bermunculan, angka penjualan fisik saat itu tetap mampu bertahan di atas angka satu juta. Salah satu penyebabnya adalah pencapaian artistik masing-masing band yang berbeda satu sama lain. Masing-masing memiliki ciri khas.
Warna vokal Duta nan khas mampu memberi roh pada setiap lagu yang ia bawakan. Perhatikan pula tema selingkuh dalam “Sobat” milik Padi yang tetap disuarakan lewat sudut pandang lelaki jantan. Sound gitar Piyu turut memberi aksen bahwa mereka tak ingin bercengeng-cengeng. Demikian pula karakter cadas yang menyembur dari setiap lagu Jamrud. Musiknya tidak banyak menawarkan ornamen, namun terdengar simpel dan tegas. Mungkin karena itu corak permainan drum Herman dianggap lebih pas ketimbang Budhy Haryono, pemain drum yang pernah memperkuat formasi band tersebut ketika masih bernama Jam Rock.
“Budhy itu bagus tapi karakter pukulannya terlalu banyak bunga. Jamrud membutuhkan pemain drum yang bermain sederhana namun keras. Herman cocok untuk itu,” kata Aziz ketika mencoba membandingkan kedua pemain drum tersebut.

Pencitraan seperti itulah yang kini sulit ditemukan pada puluhan bahkan ratusan band baru yang setiap saat terus bermunculan. Sekali-kali cobalah Anda bangun pagi hari dan nonton program musik yang terdapat di hampir setiap stasiun televisi seperti Inbox, Dering, Dahsyat dan lain sebagainya. Di sana selalu muncul wajah baru. Jika merasa bingung dengan nama-nama band yang tengah beraksi saat itu, Anda tidak perlu minder karena bukan satu-satunya pemirsa yang kebingungan.

Kisah sukses Sheila On 7, Padi, mau pun Jamrud seperti membangunkan mimpi di kalangan anak muda untuk ramai-ramai melirik industri musik sebagai sektor formal yang sanggup menjanjikan harapan. Status sebagai musisi tiba-tiba saja menjadi terdengar mentereng. Band baru terus bermunculan. Sebagian mengikuti sukses nama-nama di atas, sebagian lagi tidak jelas juntrungannya karena lemah dalam motivasi, karena semata-mata tergoda booming sukses tersebut. Yang terakhir inilah tipikal musisi korban ambisi para orang tua yang menginginkan anak-anaknya terkenal, punya banyak uang, muncul di layar televisi dan menjadi buruan media massa.
Investasi ratusan juta perak untuk mengantar sang anak, yang sebenarnya tak cukup punya bakat, bukan lagi persoalan besar. Seorang produser yang kerap berhasil mengorbitkan pendatang baru bercerita bagaimana dirinya sering didatangi oleh para orang tua dengan membawa segepok uang sembari meminta agar anaknya dibuatkan album rekaman. “Yang penting anak saya bisa masuk televisi,” katanya.

Akan tetapi euforia atas tren penjualan album sejuta keping tak mampu menahan merosotnya jumlah penjualan fisik dari tahun ke tahun. Catatan dari ASIRI memperlihatkan pada tahun 2000 produksi legal mencapai 52, 502,569 dan produk ilegal 240,084,555, sementara pada 2001 pada saat Padi mengharu biru dengan Sesuatu Yang Tertunda, omset produk legal sebenar-nya sudah menurun hingga mencapai 44,031,698 dan produk ilegal meningkat jadi 290,813,051. Berbagai strategi pemasaran yang cermat dari para label sepertinya tak berdaya menghadapi perilaku culas pembajak.

Bulan September 2004 industri musik memperlihatkan gairah baru dengan masuknya era RBT (ringback tone) yang khusus menyasar pangsa pasar pengguna ponsel. Adalah Telkomsel yang pertama memperkenalkan bentuik baru ini dengan menggandeng Sony BMG Music Indonesia. “Kami adalah pionir dalam bisnis RBT saat itu. RBT tidak dibajak,” ujar Jan Djuhana, Senior A&R Director Sony Music Entertainment Indonesia.

Booming bisnis RBT yang dipelopori Telkomsel akhirnya menjadi hiruk pikuk dengan bermunculannya para pemain baru yang tak ingin menyia-nyiakan kesempatan emas ini. Mereka antara lain ialah Indosat, Excelcomindo Pratama, Bakrie Telekom, Mobile 8 dan banyak lagi. Salah satu band yang melejit penjualan RBT-nya adalah Vagetoz dari Sony Music. Lagu-lagu band asal Sukabumi, Jawa Barat, itu didownload hingga delapan juta hit. “RBT Hijau Daun sampai sekarang bahkan sudah mencapai 10 juta,” tambah Jan Djuhana lagi.
Jumlah yang kurang lebih sama diperoleh band Armada, seperti diungkap oleh Rahayu Kertawiguna, pendiri Nagaswara Records. Sayang, Logiss Records, label yang membawahi Jamrud, Power Metal dan Kobe, terlambat merespons bisnis yang menjadi primadona ini. Buktinya, tak semua produk Logiss mencantumkan kode RBT di sampul belakang seperti yang umumnya produk yang banyak beredar.

“Pertama waktu itu aku sibuk tur sehingga tidak sempat mengurus RBT. Kedua, musik rock itu berapa sih jumlah pengunduhnya? Kalau sekarang aku pasang iklan RBT di televisi, itu karena ‘partisipasi’ saja, he-he-he,” kata Log. Sikap tak terlalu menggubris pesona RBT juga diperlihatkan Romulo Radjadin alias Lilo, pemain gitar KLa Project. Dalam jumpa pers peluncuran album baru Exellentia, ia menegaskan bahwa KLa Project tetap menjual album. RBT bagi mereka hanyalah sampingan.
Dengan serta merta booming RBT ini segera mempengaruhi perilaku konsumen musik. Mereka makin tidak tertarik membeli album fisik dan memilih ramai-ramai berlangganan RBT yang dianggap dapat lebih menghemat uang jajan. Sebagai contoh, pengguna kartu produk Telkomsel cukup merogoh Rp 9.000 perlagu perbulan.Bandingkan dengan harga satu album fisik yang berkisar antara Rp 25.000 hingga Rp 60.000.
Itu belum termasuk biaya transportasi si konsumen yang mendapat album yang diinginkan. RBT menjelma sebagai penyelamat roda industri musik yang semakin lunglai karena gempuran pembajak. Apalagi para operator akhirnya menawarkan varian dari bisnis konten musik ini seperti ring tone, truetone sampai full track download (FTD).

Namun di samping sebagai penyelamat, mengelembungnya bisnis RBT sebenarnya turut andil dalam menenggelamkan eksistensi bisnis fisik itu sendiri. Lihat saja, sebagian musisi makin malas bikin album penuh karena di samping telah terjadi perubahan perilaku pasar yang ditingkahi oleh merosotnya daya beli masyarakat, impian untuk membuat rekaman album sudah tidak lagi dianggap rasional.
Sekarang cukup dengan satu lagu, tanpa ada keharusan merilis bentuk fisik, keuntungan finansial telah melambai-lambai di depan mata. Akibatnya musisi, dengan restu para label, ramai-ramai merekam single. Album penuh yang seringkali merupakan representasi pencapaian artistik tidak lagi mendapat kedudukan terhormat. Jadi, ulah pembajak bukan lagi momok tunggal industri musik yang menggiring pada kebangkrutan. (Sumber ; Rolling Stones Indonesia)
[GK]

Review Konser Morbid Angel di Singapura


D Marquee, Downtown East, Singapura, 25 Mei 2011
Legenda death metal sukses guncang Singapura




Pertama kali mendengar bahwa Event Organizer Singapura yakni Cynical Sounds akan mendatangkan Morbid Angel, yang terlintas di benak adalah bagaimana belasan tahun lalu metalhead Indonesia mendengar berbagai mitos tentang Morbid Angel, salah satu originator death metal asal Tampa, Florida, itu. Mitos tersebut membuat ekspektasi menjadi menggebu di tanah Singapura. Salah satu yang cukup terkenal adalah mitos para personil Morbid Angel yang konon gemar bercengkerama di kuburan dan melakukan vandalisme terhadap makam orang. Ini membuat sosok bassist/vokal David Vincent dan lead guitarist Trey Azagthoth menjadi seolah monster mengerikan yang tak bersahabat.

Namun semenjak lagu pertama “Immortal Rites” digelegarkan saat konser, bayangan yang melekat belasan tahun tersebut seketika hancur akibat citra Morbid Angel 2011 yang cukup bertolak belakang. David Vincent dengan rambut hitam, busana yang sedikit terlihat terpengaruh industrial rock membuat saya berasumsi bahwa pengalamannya bermain band untuk band istrinya, Genitortures, masih menyisakan bekas. Kini David Vincent sekilas seperti Nikki Sixx versi death metal. Ia selalu komunikatif dengan penggemar mereka, sesekali tersenyum, dan kembali menggasak bas dengan keras. Hei, ia ternyata pria yang normal.

Malam itu Morbid Angel membawakan lagu-lagu dari berbagai album seperti “Maze of Torment” dari album debut mereka, Altar of Madness (1989), atau juga “ExistoVulgore” dari album yang baru mereka rilis, Illud Divinum Insanus (2011), dan segera bisa terasa bahwa suara vokal David Vincent total prima dengan growl berat namun masih sangat jelas terdengar artikulasi yang diucapkan. Sementara yang senantiasa headbang di sisi kirinya adalah Trey Azagthoth, dewa gitar (atau setan gitar?) yang membuktikan kepada crowd bahwa tidak percuma dirinya dianggap salah satu gitaris death metal terbaik yang dimiliki umat manusia. Solo-solo brutal yang diperdengarkannya bukan hanya menimbulkan kekaguman akan hal teknis, namun juga sukses menghembuskan hawa dingin, sinis dan evil. Ambiens yang tepat untuk tema lirik Morbid Angel yang memang menawarkan sisi mistik, antitesis dari religi, serta mitos sumeria kuno. Personel baru, Destructhor (gitar), tampil kalem sepanjang set. Yang menarik perhatian secara signifikan adalah cara Tim Yeung (drum) dalam bermain. Mantan drummer band metal Divine Heresy ini menjadi pemandangan yang mantap setelah berhasil bermain rapat dan keras, dengan pola death metal yang penuh akan hyperblast drumming, double kick drum yang merentet cepat seperti senapan mesin, namun mampu menjaga showmanship dengan berbagai gimmick keterampilan memutar stik drum, sehingga membuatnya terlihat seperti Tommy Lee dari Motley Crue yang nyasar bergabung ke dalam sebuah band brutal death metal.

Sebanyak 13 buah lagu Morbid Angel panjatkan ke para metalhead Singapura (yang juga cukup banyak dihadiri penonton Indonesia), di antaranya� adalah “Angel of Disease”, “Blasphemy” dan ditutup dengan “Chapel of Ghouls” sebelum silam ke belakang panggung, untuk kemudian muncul kembali demi encore. Dan terus terang crowd cukup kaget karena ternyata hanya satu buah lagu, yakni “God of Emptiness” yang menjadi encore. Setelah dikonfirmasi, ternyata venue yang terletak di lingkungan mal daerah Downtown East itu cukup berdekatan dengan pemukiman, hingga pada akhirnya event konser ini menerima komplain dari warga sekitar, mengakibatkan encore yang seharusnya terdiri dari enam lagu diperpendek menjadi satu lagu saja. Senyum sedikit terjadi karena terus terang kejadian macam ini sedikit mengingatkan pada konser-konser underground ibukota yang kadang bermasalah dengan izin aparat. Namun bukan berarti mereka tampil mengecewakan, karena para biang-biang death metal ini memang adalah yang terbaik di bidangnya hingga sajian Morbid Angel memang sudah lezat sejak awalnya. (Sumber ; Rolling Stones Indonesia)
[GK]

REVIEW: BURGERKILL - VENOMOUS / REVOLT RECORDS




Venomous bukan hanya sebuah album baru yang memamerkan musikalitas dan kemampuan aransemen yang mumpuni dari band metal asal Bandung ini. Sepuluh komposisi dalam album ini juga merupakan ketukan palu pengesahan suksesnya transisi dari era vokalis lama Ivan ‘Scumbag’ Firmansyah yang wafat tahun 2007. Kini setelah digantikan oleh Vicky vokalis baru mereka, Burgerkill 2011 lewat album barunya berhasil pamer berbagai kebolehan bermusik. Seperti pada “Age of Versus” yang seru menderu dengan hentakan double bass drumming. Atau tembang “Under The Scars” yang menunjukkan sisi khas mereka yang masih fasih merangsak diiringi tempo sedang, padat nan groovy yang penuh variasi ‘hitungan’ ketukan. Juga tak ketinggalan sisipan melodius yang menyeruakkan sensasi megah. Semua pameran serangan metal khas Burgerkill ini mengingatkan kekuatan yang selama ini membuat ‘racun’ mereka mudah untuk menyebar dan menular di pendengarnya. Berbicara perkembangan musik, bisa dibilang kini Burgerkill bukan hanya mengalami transisi, namun juga revitalisasi. Seperti adanya bagian-bagian growl yang ‘bernyanyi’ mengingatkan pada besutan vokal ala band metal macam Gojira. Atau tembang groovy metal yang kental blues ala Pantera seperti yang terlihat di “For Victory” juga merupakan sesuatu yang menyegarkan. Satu perubahan yang juga terasa adalah punahnya lirik depresif yang kerap menghias berbagai lagu di era Ivan Scumbag. Seolah trauma karena meneriakkan lirik bertema depresi dan kematian berujung kepada sebuah musibah, kini Burgerkill bergeser ke posisi nyaman meneriakkan lirik-lirik penuh kecaman serta geraman dengan api semangat. Semua elemen di album ini menunjukkan bahwa dengan semangat dan dedikasi yang berapi-api, Burgerkill kini berlipat ganda kian berbisa. (Sumber ; Rolling Stones Indonesia)
[GK]

Kamis, 28 Juli 2011

SUFFOCATION “Blood Oath”



Death metal mana yang tak mengenal SUFFOCATION. Nama-nama seperti SUFFOCATION, OBITUARY, DYING FETUS, CANNIBAL CORPSE serta DYING FETUS adalah segelintir nama yang menjadi pegangan wajib bagi pengaku pecinta death metal sejati.
Sejak terbentuk di tahun 1990, death metal New York ini tidak ingin merubah musik mereka menjadi lebih lembut dan “Blood Oath” hadir dengan penawaran yang lebih kurang sama dengan album-album sebelumnya. Hebatnya meski sempat bubar dan reuni kembali di tahun 2002, saya pikir album ini terdengar lebih baik bila membandingkannya dengan “Souls To Deny” di tahun 2004 dan “Suffocation” di tahun 2006. Yang secara singkat saya mencoba menggambarkan kalau inilah rilisan terbaik mereka pasca reuni. Apalagi mereka seperti sengaja mempersiapkannya setelah rilisan “The Best Of…” setahun sebelumnya.
“Blood Oath” terdengar lebih technical dari sebelumnya meski tidak menyamai kemampuan muda mereka ketika merilis “Effigy of the Forgotten” di tahun 1991 ataupun pada “Pierced from Within” di tahun 1995, namun SUFFOCATION seperti ingin berbuat lebih baik dengan mempertahankan formula lama. Formula lama yang saya maksud disini adalah masih digunakannya orang yang sama untuk menggarap layout album dan juga enjiner.
Joe Cincotta tetap ditempatkan duduk sebagai enjinering dan produser SUFFOCATION. Pekerjaan yang telah dilakukannya dengan dua album SUFFOCATION sebelumnya. Sementara kover masih ditangani oleh Jon Zig. Jon Zig kerap menjadi desainer kepercayaan Frank Mullen cs dan diberkatilah death metal Bandung, JASAD yang juga memiliki Jon Zig sebagai penggarap artistik album.
Sedangkan berbicara tentang komposisi musik yang ditawarkan di “Blood Oath”, album baru ini banyak menyuguhkan lagu-lagu mantap sesuai dengan apa yang telah dijanjikan sang vokalis Frank Mullen beberapa waktu sebelum melakukan proses rekording.
Setelah lagu yang sama dengan titel album, ‘Blood Oath’ saya merekomendasikan untuk ‘Dismal Dream’, ‘Images of Purgatory’ dan juga ‘Cataclysmic Purrification’. Terutama untuk ‘Images of Purgatory’ saya pikir orang-orang ini mencoba memberikan tambahan rasa ke dalam musik mereka mainkan selama ini. Di titik ini saya merasa kesulitan bagaimana menjelaskan cara yang lebih detail, namun pendengaran saya menangkap ada sedikit nuansa berbeda di nomor ini.
Sedangkan ‘Cataclysmic Puriffication’ akan terdengar cukup akrab di telinga para pecinta SUFFOCATION karena ini adalah formula yang hampir sama dengan beberapa lagu lama mereka. Musik brutal death metal dengan paduan groovy yang lebih kental.
Hampir dua tahun lalu atau tepatnya Juni 2007 Relapse mengeluarkan SUFFOCATION dari jajaran elit pasukan label tersebut namun Nuclear Blast menangkapnya dengan sangat baik sehingga membuat pamor SUFFOCATION menjadi lebih naik dengan bergabung ke label yang menurut saya masih lebih baik dari Relapse.
Musik death metal secara perlahan semakin menemukan tempat yang lebih tinggi dengan tidak berpalingnya band-band tua yang malah terus menciptakan musik ketika mereka memulai awal karirnya. Dan “Blood Oath” sesungguhnya bukan album yang berkategori buruk bagi SUFFOCATION meski kalau membandingkan dengan dua rilisan awal masih sulit mendekati masterpiece-nya. Namun sekali lagi saya menganggap inilah album yang paling baik setelah mereka reuni.
Dan sebagai nomor terakhir, ‘Marital Decimation’ adalah satu nomor lama mereka yang direkam ulang sebagai pelampiasan nafsu ketika merilis album “Breeding the Spawn” di tahun 1993. Yah, satu album bagus yang dianggap hasil produksinya terdengar kurang matang dari “Effigy of the Forgotten” dan ‘Marital Decimation’ adalah salah satu menu dari album tersebut. [berontakzine.com]

Venomed – Demo yang keji




Damn!!!… band daerah banyak bermunculan yang mempunyai skill & musikalitas diatas rata-rata sebut aja band satu ini, Venomed berdiri pada tahun 2008 di Yogyakarta ini mengusung slamming brutal death metal dengan formasi Benny ; Vocal, Rizky ; Gitar, Roy ; Drum, & Robby ; Bass. walaupun mereka terbilang masih baru dalam dunia musik metal tapi saya berani bertaruh harapan besar bahwa band ini bisa bersaing dengan ganas & kejam dengan band-band metal lainnya. bulan Mei 2009 silam mereka baru saja mengeluarkan demo berisi 3 track lagu gokil dan tidak dipungkiri musik mereka memang bisa dibilang aneh plus brutal, respon yang bagus banyak mereka terima dikalangan pecinta musik extreme metal indonesia, khususnya death metal. dan sampai akhirnya demo 3 lagu milik mereka sempat dirilis oleh Metal Thai dari negara Thailand yang sudah memberanikan diri untuk mencabik-cabik musik Venomed kepada pecinta musik Thailand, sebuah kebanggaan! Venomed bisa berkolaborasi dengan band-band lainnya dalam split 4 Way Supreme Entry bersama Defiated Sanity ( Jerman ), Moonfog ( Slovakia ), Splattred Orgasm ( Thailand ). selain mereka terus menjajal untuk ikut kompilasi direncanakan akhir tahun 2009 Venomed mencoba untuk merilis album penuhnya dan sekarang sedang dalam tahap produksi.

Cranial Incisored; Berfikir dan Berfilsafat

Artist: Cranial Incisored
Album : Lipan’s Kinetic
Label : Hellavila Records


Cranial Incisored adalah band yang berfikir. Mengapresiasinya memerlukan perenungan dan pemikiran, bukan kemarahan dan kekesalan. Mengharapkan kehitaman, darah, dan kengerian dari band ini adalah kesia-siaan belaka. Sebaliknya, gerombolan ini menaburkan sinkopisasi, teknik bermusik yang njelimet yang dikawinkan dengan lirik falsafati plus musik hasil perkawinan silang sana sini yang tak ayal membawa siapa saja untuk berhenti dan merenung, memikirkan, terperangah, kembali melaju dan melaju dengan cepat, untuk kemudian dipaksa tersendat dan tertawa hingga orgasmus. Semua instrumen seolah melesat liar dan berhenti untuk kemudian meliuk, menukik, meledak dan melesat kembali seringkali bahkan kadang tak bersama sama. Identitas inilah yang kuat melekat di CD mereka bertajuk Lipan’s Kinetic di bawah label Hellavilla. Nomor pertama Paradox of Paradoxical Paradigm adalah representasi semua yang telah  dideskripsi di atas.
Mendengarkan keseluruhan track pada album kedua band berbasis di Jogja ini, tak diragukan lagi bahwa CI (demikian akronim yang biasa digunakan) adalah band yang konsisten dalam  ramuan metal yang dengan suka cita mengalami hubungan pendek dengan unsur funk, punk, jazz, dan bahkan beat music. Permainan jazzy misalnya mengawali track ke empat Accelerating Velocity dimana sang gitaris Halim Budiono memainkan chord-chord ‘miring’ khas jazz. Ingin murni nomor Jazz? Simaklah lintasan ke enam yang bertajuk Jazz Ujan (raincoat) yang benar-benar bermain Jazz yang mereka rekam secara live.
Keistimewaan lainnya? Album yang mengeksploitasi habis falsafah serangga bernama lipan ini dikemas dengan amat baik, menggunakan material yang lux dan design grafis yang teramat kreatif yang hampir kesemuanya diotaki sendiri oleh Halim Budiono. Masih ada lagi : sejumlah bonus track dan extra CD ROM track. Inilah merchandise metal yang memperhatikan taste, yang tak saja bisa diapresiasi telinga, namun juga mendatangkan kepuasan tak berjangka waktu bagi siapa saja yang memilikinya. Bahwa Cranial Incisored adalah salah satu dari sekian banyak band metal  tanah air yang technical itu adalah rahasia umum, namun fakta bahwa band ini menumbuhsuburkan tradisi metal berfikir dan menembus batas dan aturan dan bisa diakui eksistensinya itulah yang menjadikannya mendapat nilai teramat lebih. Kalaupun ada kekurangan yang harus disebutkan barangkali di permasalahan grammar di beberapa bagian lirik yang kesemuanya memang ditulis dalam bahasa Inggris. Namun siapa tahu, itu adalah bagian dari misi menembus pakem dan aturan yang membatasi? (Manunggal K. Wardaya)

Biografi OPIUM

OPIUM dibentuk pada awal tahun 2007 dengan line-up Fajar (Vokal), Tony (Gitar), Arief (Drum), Yorghi (Bass). Awalnya band ini adalah band proyek saja karena masing-masing personil punya band sendiri-sendiri. Sebut saja Arief  dan Fajar yang keduanya personil FINGER OF DEATH, Tony dengan DOWN SYNDROM-nya, dan Yorghi dari INCORUPT. Tetapi seiring waktu mereka semakin mantap membentuk sebuah band baru dengan genre Brutal Death Metal. Sebelum bernama OPIUM band  ini bernama "Sodomical Of God".



Formasi awal tidak lama bertahan karena keluarnya Yorghi dari band. Seiring dengan kekosongan posisi bass, nama "Sodomical Of God" pun mereka ganti dengan OPIUM.  Sampai akhirnya pada pertengahan tahun 2007 mereka memilih Hadi sebagai pemain bass baru di Opium. Namun tak lama Hadi pun mengundurkan diri karena sibuk dengan pekerjaannya.

Pada awal tahun 2008 akhirnya OPIUM bertemu Chandra (Eks - Faith Must Pain), sepakat untuk merekrut Chandra sebagai pemain bass baru di OPIUM. Dan di pertengahan tahun 2008 OPIUM mengeluarkan promo lagu dengan judul, "Bingkai Mayat Membusuk", "Propaganda Religion", dll. Dengan line-up terbaru Fajar (Vokal), Tony (Guitar), Chandra (Bass), dan Arief (Drums), OPIUM terus bertahan sampai sekarang.

INFLUENCE:

-SUFFOCATION
-DISAVOWED
-DYING FETUS
-DISGORGE
-CONDEMNED
-PYAEMIA
-JASAD
-BLEEDING CORPSE
-SIKSA KUBUR